Saturday, February 1, 2014

The Last Goodbye

Mami bingung harus ngasihtau gimana sama kakak soal ini, suatu saat nanti kakak pasti mau tau gimana awalnya dan permasalahannya. Semoga apa yang mami jelasin ini bisa cukup memberikan gambaran yang jelas ya kak.

Pertama mami mau minta maaf banget sama kakak, maaf atas semua kejadian yang sudah terjadi. Maaf karena atas kesalahan kita sebagai orangtua, kakak yang harus ngerasain akibatnya. Maaf untuk semuanya, tapi mami sudah sangat berusaha memberikan yang terbaik untuk kakak. 

Maafin mami ya kak.

Mungkin semua ini kesalahan mami. Mami yang salah tidak memilihkan calon ayah yang soleh buat kamu. Ayah yang baik tingkah lakunya untuk jadi teladan kakak, ayah yang sayang dan patuh sama Allah swt dan Rasulullah saw. Harusnya mami lebih peka terhadap hal itu daripada memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sifatnya duniawi aja.

Awalnya mami memang ragu untuk nikah sama ayah. Ragu karena tau kalau ayah itu bukan orang yang baik. Masa lalunya buruk dan gak ada jaminan untuk suatu saat jadi lebih baik. Tapi akhirnya mami mau nikah, karena mami pikir semua orang pantas untuk dapat kesempatan yang kedua. Mami pikir suatu saat nanti ayah pasti berubah jadi lebih baik, lagipula ayah sudah pernah janji kalau nanti dia bakal jadi lebih baik.

Ayah,
Ya sebenernya kakak punya ayah. Semua orang yang lahir ke dunia pasti punya ayah. Tapi buat mami sekarang ayah kamu gak pernah ada kak. Ayah itu seharusnya selalu ada di samping anaknya, menjaga anak dan istrinya. Melindungi dan membimbing keluarganya. Semua yang harusnya dilakukan oleh orang yang disebut ayah tidak dilakukan oleh ayahmu kak. Itu yang membuat mami kecewa dan memutuskan untuk sudahlah mami gak mau jadi istri dari ayah kakak lagi. Mami kecewa dan sakit hati, saking sakitnya sampai mami gak mau kakak kenal sama orang yang namanya Karim, Ayahmu itu.

Sebelumnya Karim juga sudah pernah gagal dalam pernikahannya yang pertama. Iya Karim udah pernah nikah sebelumnya dan punya dua anak. Anaknya perempuan yang paling besar dan adiknya laki-laki. Mami sudah sering ngobrol sama anak perempuan dan mamanya. Mamanya sudah sering menceritakan penderitaan yang dia alami selama jadi istrinya Karim. Mami pikir Karim gak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali. Ternyata mami salah.

Pada dasarnya Karim itu orang baik, tapi semua orang juga baik namanya juga manusia harus jadi orang yang baik. Yang bikin mami mau nikah sama dia itu karena dia sayang sama mami walaupun mami gak begitu sayang sama dia. Rasanya lebih adil kalau membiarkan kita hidup sama orang yang sayang sama kita daripada sayang sama orang yang gak sayang sama kita. Awalnya semua baik-baik aja, semua berubah setelah mami tau kalau mami hamil. Mami mengandung kakak.

Dari awal semua sudah tau kalau mami masih harus fokus nyelesain kuliah, masih mau fokus kerja dan berfikir untuk nanti dulu soal punya anak. Tapi Karim maksa untuk punya anak, dia yang mau cepet punya anak dan dia yang berusaha untuk punya anak tanpa memikirkan kekhawatiran mami tentang semua hal yang mami belum selesaikan. Sampai akhirnya mami beneran hamil.

Awal kehamilan mami stres bukan main. Selama sebulan hamil mami hidup sendirian sedangankan Karim di luar kota. Awalnya cuma bilang pergi seminggu sampai akhirnya malah jadi sebulan lebih. Waktu itu mami lagi sakit-sakitan, gejala awal hamil yang mami gak tau sampai mami penasaran dan ke dokter kandungan. Ternyata betul mami hamil. Mami nangis sesegukan sendirian di rumah. Mami belum siap, mami gak ngerti apa-apa soal hamil dan ngurus anak. Ngurus diri sendiri aja masih gak beres sekarang malah punya anak. Mami bingung sampai mami ngehubungin nenek dan nenek habby bilang gak papa dan menenangkan mami.

Awalnya yang tau cuma orang kantor dan orang kantor nelepon Karim ngasihtau mami hamil. Mereka senang bukan main termasuk ayah. Mami sedih sendirian, mami gak mau hamil dalam keadaan gak tau apa-apa. Kasian kakak punya ibu yang gak ngerti ngurus anak. Selama awal bulan kehamilan mami ngurus diri sendiri, cari makan sendiri, berangkat kerja sendiri, ke kampus yang jaraknya lebih dari satu jam sendiri naik motor, kehujanan kepanasan dan bertambah stres. Lama-lama mami gak kuat, mami mau pulang ke rumah mami aja tinggal sama nenek habby sebelum mami sidang skripsi. Setelah susah payah minta ijin kantor akhirnya mami pulang, gantian ninggalin Karim sendirian di Jakarta demi kandungan mami. Sampai akhirnya mami kembali ke Jakarta untuk sidang skripsi biar lulus kuliah.

Bulan bertambah bulan, kehamilan mami semakin berat rasanya. Belum lagi bisa menghilangkan stres, badan mami setiap saat muntah dan muntah. Gak ada sedikitpun makanan yang masuk ke badan mami kecuali untuk dimuntahkan lagi. Badan mami jadi sangat kurus dan lemah. Dalam keadaan begitu mami jadi sering marah menyalahkan Karim yang mau mami hamil dan punya anak. Satu hal yang mami benci dari keadaan itu adalah ketika mami stress Karim bukannya menenangkan hati mami malah dia jadi sibuk mengutuki dirinya sendiri dan menyarankan untuk aborsi, menggugurkan kandungan atau membunuh kakak yang masih berbentuk janin 3 bulan. Astagfirullah untung mami masih punya iman, untung Allah swt masih sayang sama mami. Kalau terjadi aborsi mungkin saat ini mami selalu dihantui dosa besar. Ntah apa yang ada di otak Karim itu sampai dia menyarankan untuk mengaborsi kakak daripada menenangkan mami agar siap menjadi orangtua.

Kandungan semakin besar, mami semakin stres menghadapi ujian sidang kelulusan sedangkan Karim lebih sibuk lagi mengurusi pekerjaannya. Seakan-akan gak pernah ada waktu untuk mengurus istrinya yang sedang mengandung. Tiap hari mami muntah dan lemah, tiap hari mami hanya bisa makan mie instan karena terlalu lelah untuk cari makan di luar sedangkan mami gak punya dapur dirumah kita yang sempit itu. Mami pernah minta untuk Karim selalu nyediain mami makan biar mami gak selalu kesakitan. Walaupun jarak kantor ke rumah cuma 5 menit sepertinya di mata Karim itu sangat mengganggu. Mami bisa ngerasain kalau semua yang dia lakuin itu terpaksa sampai akhirnya mami biarkan aja dia gak usah kirim-kirim makanan lagi, mami cari sendiri.

Selain semakin sibuk dia jadi semakin gak bisa pulang ke rumah. Tiap malam mami tunggu Karim untuk pulang kerumah nemenin mami yang susah tidur karena badannya mulai gak enak. Mami tunggu sampai subuh, kadang mami ketiduran dalam posisi duduk. Dia gak pernah peduli tiap malam mami nunggu dia pulang, gak jarang mami selalu ketiduran karena terlalu banyak menangis. Rasanya menyesal sekali punya suami yang memperlakukan istri yang sedang hamil dan kesakitan seperti itu. Walaupun sesekali dia pulang, dia gak pernah betah dirumah selalu ngajak mami pergi padahal badan mami lagi gak begitu mampu untuk selalu pergi-pergi ke luar. Tapi dia pikir itu semua sudah cukup membayar semua penderitaan mami selama ini.

Sampai mami kesakitan dan harus ke rumah sakit pun dia cuma meluangkan waktu sebentar setelah kembali kerumah dia kembali cepat-cepat ke kantor. Mami kesal seandainya dengan dia kerja mati-matian begitu dia punya banyak duit mungkin masih lebih bagus, tapi ini dia selalu gak punya duit. Gaji kadang datang kadang engga. Biaya bulanan rumah yang ratusan ribu itu selalu mami bayar pakai uang sendiri. Mami gak pernah minta uang sama dia, apalagi kalau mami bisa cari uang sendiri. Selama nikah mami gak pernah minta apa-apa sama dia kecuali minta dia selalu ada untuk bantuin kehidupan mami, itupun gak pernah bisa dia lakuin. Mami selalu disuruh ngertiin dan sabar. Ya waktu itu mami selalu sabar dan sabar, waktu itu mami masih sayang sama dia dan mami masih mau ngertiin dia.

Sampai akhirnya semua orang kasian. Nenek habby, sepupu-sepupu mami, tante mami semuanya kasian sama mami. Mereka nyuruh mami pulang, mami pengen banget pulang bahkan kalau perlu sehari setelah sidang. Tapi mami harus nungguin ijazah sampai jadi, tapi ternyata mami gak kuat lagi. Akhirnya mami pulang sebelum ijazah selesai dan terancam gak bakalan ikut wisuda dan itu bikin mami sedih banget, tapi demi kakak yasudahlah. Mami pulang bukannya mami egois, mami sudah gak kuat makan sembarangan, mami gak kuat stress sendirian gak ada yang nemenin setiap muntah, mami kasian sama kakak, mami takut kakak gak sehat kalau mami terus-terusan begini. Jadilah mami pulang ke Samarinda, ke rumah nenek.

Keadaan semakin membaik, mami mulai belajar mempersiapkan semuanya. Cara merawabt bayi dll. Mami mulai menikmati masa-masa kehamilan ini walaupun sendirian. Masuk trimester kedua keadaan semakin ringan karena gak muntah-muntah lagi, makan sudah teratur karena disediain nenek habby, walaupun mami pusing ngurusin kerjaan yang sebenernya gak mungkin dikerjakan dari rumah. Perlahan orang kantor mulai menganggap mami gak ada, tidak dilibatkan dalam apapun. Semua itu bikin mami sedih banget, tapi mau gimana lagi mami memang gak ada di kantor walaupun mami mau sekalipun. Kehilangan kepercayaan dari orang yang menganggap mami bisa diandalkan itu rasanya sakit sekali, tapi demi kakak biarlah. Yang penting mami masih punya uang untuk ngebiayain rumah dan kebutuhan nenek habby. Walaupun keadaan gak selamanya menyenangkan disini, seperti biasa mami dan nenek habby itu gak bisa semudah itu akur.

Awalnya Karim mulai ngedatangin mami ke Samarinda sesekali, tapi tetap dia gak pernah peduli untuk selalu ngehubungin mami, nanya kabar kesehatan mami atau apalah. Dia lebih suka baca blog mami atau social media dimanapun daripada nanya langsung sama mami. Lama-lama mami kesal dan mami gak mau peduli lagi sama dia. Dia gak pernah ngasihtau dia dimana, tau-tau mami dapet kabar dia gak di Jakarta atau dimanapun tapi bukan dari mulutnya. Seakan-akan mami gak berhak tau apapun soal kehidupannya dia. Bulan demi bulan dia kesini seakan-akan cuma melepas tanggung jawab. Kesini seperti biasa tetap sibuk ngurusin pekerjaannya bukan ngurusin mami. Pergi keluar rumah sesukanya tanpa pamit, berlagak boss atau tidur seharian. Yang mami paling benci dia gak pernah mementingkan sholat, setelah semua yang Allah swt kasih ke kita - uang, kesehatan dll dia gak mementingkan sholat!

Bulan demi bulan semakin berat bahkan sangat berat. Kehamilan mami mulai mendekati hari kelahiran. Malam-malam susah tidur, kepanasan, sesak napas, perut sakit dll. Tapi apa, sehari pun Karim gak mau peduli, gak pernah nanya apa-apa, ngehubungin kalau ada hal penting yang dia perlukan bahkan di malam mami sudah mau melahirkan kakak, dia gak nanya apapun soal keadaan mami. Mami selalu berdoa semoga kakak lahir tanpa ada Karim di samping mami, biar mami tidak berhutang budi apapun sama dia, biar dia tau mami mampu menghadapi semua hal sendirian, biar dia gak sok merasa dibutuhkan terus. Sebelumnya malah dia dengan bodohnya nanya kapan kakak lahir. Emangnya mami Allah swt yang bisa tau kapan kakak mau lahir dari perut mami? Pertanyaan paling bodoh yang pernah ada, dimana semua suami harusnya siap sedia nemenin istrinya yang tanpa diduga nanti akan lahir dia malah sibuk dengan urusan yang katanya URUSAN PEKERJAANNYA.

Nenek habby awalnya minta mami ngasihtau Karim, tapi mami bersikeras gak mau, mami gak mau dia ada disini. Sampai akhirnya hampir 24 jam mami menderita karen kontraksi yang luar biasa- Tanpa Karim. Cuma ada mami dan nenek habby menanggung semua kesakitan yang mami rasain. Masa diantara hidup dan mati. Waktu itu otak mami gak mau mikir apa-apa saking sakitnya yang dirasain mami. Mami malah berfikir jangan-jangan ini hukuman atas semua dosa mami sampai mami harus kesakitan sehebat ini.

Akhirnya kakak lahir, mami selamat masih hidup dan bernafas lega. Ternyata Allah swt masih terlalu baik sama Karim. Tiba-tiba setelah semua perjuangan mami selesai, beberapa jam setelah semua sudah beres dan mami sudah istirahat dengan tenangnya, Karim datang dari balik pintu. Mami bingung kok dia bisa ada disini. Dia datang ke mami tanpa muka perasaan bersalah cuma bilang "Maaf". Harusnya dia gak disini kak, sakit hati mami dia ada disini setelah semuanya selesai, yang tersisa cuma rasa sakit di badan mami yang gak mungkin dia rasain. Ternyata gak sampai disitu tiap malam dengan badan yang sakit luar biasa kakak selalu nangis gak jelas tengah malam. Setiap malam selalu mami yang bangung, ngegendong kakak sedangkan dia cuma terpaksa bangun, gendong sambil tidur atau bahkan lebih asik ngorok tanpa tau kakak nangis sama sekali. Saking masih sakitnya badan mami kadang mami gak tahan untuk gak nangis, tiba-tiba mami nangis gitu aja disamping dia. Terus dia marah-marah ngebentak mami terus keluar dari kamar, bahkan tidur di luar karna marah. Begitu dia memperlakukan mami yang udah kesakitan.

Cuma 2 minggu Karim di samping mami yang sudah melahirkan. Selanjutnya dia pulang ke Jakarta lagi, kembali tidak peduli dengan bayinya. Mengaku kangen tapi setiap ketemu kakak dia acuh aja lebih memperlakukan kakak macam boneka yang bisa dimainin kalau bosan dan tidak diperdulikan waktu sibuk. Dia gak peduli mami kerepotan ngurus kakak, mami sampai nangis-nangis saking capeknya. Nenek habby sibuk jadi gak bisa selalu bantu mami. Dia? Dia cuma bilang mami pasti bisa dan nyuruh mami sabar. Gak sedikitpun terlintas di kepalanya kalau dia yang harusnya bertanggung jawab sama semua ini. Jadilah mami sendiri selalu mami sendiri yang kesusahan. Dia bukan cuma mementingkan pekerjaannya yang gak menghasilkan gaji. Dia gila hormat dan terlalu menghormati bossnya, saking hormatnya sampai gak perlu memprioritaskan keluarganya. Semuanya demi boss yang gak pernah kenal siapa mami, gak pernah peduli mami hamil atau melahirkan, bahkan gak pernah ngasih apa-apa. Dia lebih menghormati bossnya dibandingkan Allah swt. Dia gak peduli sama adzan tapi kalau perintah bossnya dia secepat kilat langsung ngerjain.

Itulah kenapa mami benci sama dia. Benci bukan karena semua beban yang mami tanggung selama ini sendirian. Beban mami itu gak seberapa dan mami masih punya kesabaran untuk menjalani itu dan memaklumi dia. Yang mami sudah gak bisa jalani itu dia gak pernah sedikitpun menghargai Allah swt. Setelah melahirkan pas mami gak bisa solat, mami minta dia buat sholat dan ngaji buat kakak, dia gak mau dan dia gak peduli, dia malah bilang mami aja. Sakit hati mami. Lebih sakit lagi waktu Karim menyekutukan Allah swt, dia ngucapin natal dan haleluyah yang sudah jelas-jelas tidak sesuai dengan syariat. Siapa yang gak benci liat orang yang setiap adzan malah tidur, gak pernah bangun sholat subuh, dengan gampangnya gak mau ngelaksanain sholat dan sekarang dengan bangganya mengucapkan natal dan Haleluyah memuji Tuhan agama lain. Mami sedih, mami kesal, mami sakit hati. Semua ini sudah cukup buat mami untuk gak jadi istrinya lagi. Mami capek sabar kak, mami capek sekali memaklumi semua kelakuannya.

Akhirnya mami mantap untuk minta cerai. Berpisah selama-lamanya sama orang yang gak bisa dijadikan pemimpin dalam rumah kita. Bagaimana bisa orang yang tidak menghargai Allah swt Rabb semesta alam, yang jiwa dan kehidupan kita ada di genggamanNya bisa jadi pemimpin kehidupan kita, keluarga kita? Tidak, tidak akan dan mami tidak mau. Biarlah mami sengsara tapi masih bisa bersujud di hadapan Allah swt daripada jadi orang yang sehat yang Sombong gak mau tunduk dan patuh sama Allah swt. Kita semua akan mati nak dan semua yang kita lakuin harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah swt, kita akan masuk surga atau neraka. Semuanya tergantung dengan keputusan kita. Dan mami gak mau hidup sama orang seperti itu.

Setelah itu dia nangis, sedih dengan keputusan mami. Mami sebenernya orang yang paling gak tega sama orang apalagi sampai nyakitin dia. Tapi mami udah capek, mami gak mau hidup sama orang yang gak menghormati Allah swt sampai kapanpun. Walaupun sedih hati mami karena ini kesalahan mami sendiri kenapa mau nikah sama orang seperti itu. Ternyata Allah swt punya jalan lain. Setelah sekian banyak perdebatan karena dia gak mau di ceraikan, gak mau berpisah karena gak mau dipisahkan sama kakak. Akhirnya ketahuan belangnya. Dia memfitnah mami. Memfitnah mami menjelek-jelekan dia ke semua teman kerjanya. Padahal ngomong sama mereka aja mami gak pernah sama sekali. Sakit hati mami kak, seandainya kakak ngerti caranya dia memfitnah mami, merendahkan mami seperti orang idiot yang gak punya otak, menuduh mami dengan kejinya. Mami sedih dan sakit sekali hati mami. Bukan cuma itu, dia juga menganggap nenek habby itu ikut campur sama kehidupan mami, dia menganggap nenek habby itu pengganggu. Sakit hati mami kak, ntah harus berapa kali mami bilang betapa sakitnya hati mami.

Mami gak peduli kalau ada orang yang ngejelekin mami, mami masih bisa terima dan sabar. Kalau ada orang yang memfitnah mami dan itu datangnya dari mulut orang yang seharusnya gak akan pernah memfitnah mami, gak akan bisa mami terima gitu aja. Mulai sekarang mami gak akan pernah mau kembali hidup sama dia. Biarlah mami sengsara daripada harus hidup sama orang yang mulutnya tidak beretika. Tidak bisa jadi panutan sama sekali. Mami gak sudi kakak punya ayah seperti itu dan gak sudi kakak melihat akhlak seburuk itu. Biarlah dia rasakan akibat dari perbuatannya sendiri kak, gak usah kakak yang liat seperti.

Itu kenapa bagi mami dia itu gak pernah ada. Lebih baik kakak gak punya ayah daripada harus punya ayah yang berakhlak seperti itu. Sebagai manusia dia memang orang yang baik, tidak ada manusia yang buruk seburuk buruknya, pasti selalu ada kebaikannya. Tapi keburukannya itu telah cukup menutupi semua kebaikan yang dia punya. Sulit untuk mami maafkan semua yang dia lakukan ke mami.

Semoga kakak bisa sangat mengerti perasaan mami dan semua keadaan yang terjadi saat ini. Maafkan mami yang udah bikin kakak gak punya ayah. Gak bisa ngasih kakak panutan yang baik sebagaimana anak-anak lain yang punya ayah yang bisa dia banggakan. Mami juga bukan seorang ibu yang baik tapi mami selalu berusaha untuk jadi yang terbaik dalam semua hal. Semoga kasih sayang dan pengorbanan mami cukup untuk membayar kesalahan mami ini. Maaf kak sudah bikin kakak sedih. Suatu saat nanti kakak bakal tumbuh jadi orang sholeh yang disayangi Allah swt. Jangan kecewakan mami ya kak dan jangan pernah melanggar perintah Allah swt. Selama kakak sayang dan tunduk sama Allah swt, mami akan selalu bahagia.

I love you nak,
I love you Thoriq Ghozy Abqory kesayangan mami.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...